Friday Literacy “Book Review of Ihya Ulumuddin Part Two” 14 Agustus 2020 M/ 24 Dzulhijjah 1441 H/

Menjadi mitra sejati dalam mengeksplorasi kebenaran Islam dalam dunia ekonomi, bisnis, manajemen dan pemberdayaan masyarakat.

Friday Literacy “Book Review of Ihya Ulumuddin Part Two” 14 Agustus 2020 M/ 24 Dzulhijjah 1441 H/

Agustus 14, 2020 Kegiatan 0

Alhamdulillah, pada Jum’at, 14 Agustus 2020 M/ 24 Dzulhijjah 1441 H telah berlangsung kegiatan Friday Literacy yang merupakan agenda rutin LPPM Tazkia dan Perpustakaan IAI Tazkia. Friday Literacy kali ini mengkaji kembali kitab Ihya Ulumuddin di bab selanjutnya yang dipaparkan oleh Ust. Thuba Jazil, M.Sc (Fin) selaku Dosen IAI Tazkia dan Koordinator Program Studi Manajemen Bisnis Syariah IAI Tazkia.

Bedah buku “Ihya Ulumuddin” kali ini pada Kitab Ithaf dari darul kutub al islamiah, cetakan darul al- minhaj. Pembahasan bedah buku sebelumnya dalam buku ini bahwa konsep bekerja antara lain seharusnya waktu yang diberikan untuk beribadah kepada Allah lebih banyak persentasenya dibandingkan dengan waktu untuk bekerja. Selain itu, memenuhi kebutuhan hidup dengan cara menampakkan kefakiran seperti meminta-minta kepada sesama manusia merupakan sesuatu yang tidak disukai Allah SWT. Selanjutnya, pembahasan dalam buku ini disajikan pada bab terkait pengetahuan cara mendapatkan nafkah (kehidupan) dengan cara dan syarat sah secara syara’, jual beli (jual beli ba’i,salam, ijarah, kirat, syirkah dengan kebenaran dan kebaikan) dan kesalahan dalam jual beli yang mengakibatkan riba dengan mencari ilmunya sebaik mungkin agar tidak salah menanggapi dan bertindak ketika melakukan kegiatan jual beli.

Allah SWT menjadikan alam dunia ini sebagai sarana untuk tempat berusaha mencari nafkah dan tempat beramal, dan manusia diciptakan sebagai makhluk jasmaniah dan rohaniah yang memiliki sejumlah kebutuhan sandang, pangan, papan dan sebagainya. Pada bab cara mendapatkan nafkah atau etos kerja Islam disebutkan bahwa Ilmu merupakan indikator pertama sebelum mencari nafkah atau bekerja. Sebagaimana bunyi hadist “Tholabul ‘ilmi faridhotun ‘alaa kulli muslim” yang memiliki arti menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim (H.R. Ibnu Majah). Selain itu, Ustadz Thuba menyampaikan bahwa kita sebagai umat Muslim seharusnya bisa menempatkan hukum-hukum Allah seperti sunnah dan fardhu nya sesuai pada tempatnya.

“Ilmu tanpa amal adalah gila, dan amal tanpa ilmu itu tidak ada nilainya”

Wallahu a’lam bish-showab

Disusun Oleh:

Syara Nur Fatimah

Zahra Shafira

Editor:

Dila Pujanah Herman, SE

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *